KARYA TULIS

Aspek Keberadaan Ruang Terbuka Hijau Sebagai Nilai Tambah Pada Kawasan Perumahan Perkotaan

Rustam Hakim

Dosen Tetap Program Studi Arsitektur Lansekap, FALTL – Universitas Trisakti
Jl. Kiai Tapa No 1 Jakarta 11440
Phone: +62.21.5663232 ext 751 (Ktr) : +62.811.194.907 (HP)
Fax: +62.21.5602575
Email: rustam@trisakti.ac.id ; bangrus04@yahoo.com

Abstrak

Salah satu permasalahan dalam pembangunan perumahan disuatu kawasan didalam pertimbangan pembuatan studi kelayakan adalah faktor lingkungan terutama keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) yang selalu menjadi bagian terkecil dari keberadaannya didalam lokasi perumahan. Banyak pemikiran bahwa keberadaan ruang terbuka hijau tersebut hanya bagian dari suatu sistem keindahan dan estetika belaka. Padahal, fungsi RTH dalam suatu kawasan memberikan konstribusi menjaga keseimbangan lingkungan dan justru akan menambah nilai eksternalitas kawasanyang berdampak pada harga riel produk “rumah” yang semakin tinggi.

Disamping itu kecenderungan konsumen menuntut suatu kawasan perumahan yang memberikan kenyamanan, keamanan lingkungan. Dari sisi pemasaran tentunya nilai tambah ini kan menjadi daya tarik calon konsumen.

Konflik akan terjadi bahwa harga tanah yang harus dikorbankan oleh para developer untuk pengadaan RTH menurut sebagian investor sangatlah riskan. Justru disitulah letak permasalahannya.

Makalah ini bermaksud untuk membahas masalah pembangunan kawasan perumahan yang terkait pada penilaian aspek ruang terbuka hijau perumahan yang dapat memberikan nilai tambah bagi kawasan perumahan.

Key words: pembangunan perumahan, wilayah perkotaan, dan nilai tambah

Pendahuluan

Pembangunan perumahan di Indonesia saling berkait erat dengan tiga pihak. Pertama, pihak pemerintah yang menyangkut pada kebijaksanaan pembangunan perumahan, tata ruang, pertanahan, perbankan, fiskal, moneter, lingkungan, politik dan partispasi masyarakat. Kedua, pihak swasta/investor yang sangat bergantung dari aspek investasi, teknologi, produk perumahan, pemasaran dan pengembalian investasi. Dan pihak ketiga yaitu masyarakat yang menyangkut kemampuan daya beli, keinginan untuk mendapatkan produk rumah yang memenuhi standart kualitas dan estetika, lingkungan yang baik.

stakeholders.jpg

PEMERINTAH

SWASTA

MASYARAKAT

PRODUK PERUMAHAN

Salah satu permasalahan dalam pembangunan perumahan disuatu kawasan didalam pertimbangan pembuatan studi kelayakan adalah faktor lingkungan terutama keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) yang selalu menjadi bagian terkecil dari keberadaannya didalam lokasi perumahan. Banyak pemikiran bahwa keberadaan ruang terbuka hijau tersebut hanya bagian dari suatu sistem keindahan dan estetika belaka. Padahal, fungsi RTH dalam suatu kawasan memberikan konstribusi menjaga keseimbangan lingkungan dan justru akan menambah nilai eksternalitas kawasanyang berdampak pada harga riel produk “rumah” yang semakin tinggi.

Disamping itu kecenderungan konsumen menuntut suatu kawasan perumahan yang memberikan kenyamanan, keamanan lingkungan. Dari sisi pemasaran tentunya nilai tambah ini kan menjadi daya tarik calon konsumen.

Konflik akan terjadi bahwa harga tanah yang harus dikorbankan oleh para developer untuk pengadaan RTH menurut sebagian investor sangatlah riskan. Justru disitulah letak permasalahannya.

Makalah ini bermaksud untuk membahas masalah pembangunan kawasan perumahan yang terkait pada penilaian aspek ruang terbuka hijau perumahan yang dapat memberikan nilai tambah bagi kawasan perumahan.

Dasar dari kebijakan pemerintah tentang penataan ruang terbuka hijau berlandaskan pada Permendagri N0 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan dengan tujuan adalah, pertama, meningkatkan mutu lingkungan hidup perkotaan yang nyaman, segar, indah, bersih dan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan, kedua, menciptakan keserasian lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna bagi masyarakat banyak.

Secara umum, ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah, terutama terhadap rencana penggunaan lahan untuk perumahan yaitu :

1.   Komposisi penggunaan lahan adalah 60% dari luas keseluruhan lahan yang dikuasai dimanfaatkan untuk sarana perumahan dan komersial yang dikelola developer dan 40% untuk prasarana, sarana umum, sosial, jalur hijau/taman.

2.   Penyediaan tipe perumahan menerapkan konsep 1:3:6, dengan pengertian komposisi jumlah rumah dengan perbandingan 1 rumah tipe besar, 3 rumah tinggal tipe sedang dan 6 rumah tinggal tipe kecil.

3.  Jaringan jalan yang direncanakan harus terpadu dengan jaringan jalan yang ada atau sudah mempertimbangkan adanya kemungkinan pengembangan jaringan jalan rencana yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Darah. Penetapan Daerah Milik Jalan (Damija), Garis Sepandan Bangunan (GSB) dan Garis Sepandan Sungai (GSS) mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

4.Pembangunan perumahan harus berwawasan lingkungan dengan pengertian memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya. Keberadaan lingkungan baru diharapkan akan memberi nilai tambah, serta memacu pertumbuhan lingkungan binaan yang terkendali.

Pembangunan Perumahan Berwawasan Lingkungan

Dalam rangka mewujudkan pembangunan perumahan dan pemukiman yang berwawasan lingkungan pemerintah telah mengundangkan Undang-Undang nomor 23 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (UULH). Khusus menyangkut perumahan dan pemukiman pemerintah mengundangkan Undang-Undang nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman.

Undang-Undang nomor 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman. mengarahkan pemenuhan kebutuhan pemukiman diwujudkan melalui pembangunan kawasan pemukiman skala besar yang terencana secara menyeluruh dan terpadu dengan pelaksanaan secara bertahap. Disamping itu juga mengarahkan bahwa penataan perumahan dan pemukiman berlandaskan pada azas manfaat, adil dan merata, kebersamaan dan kekeluargaan, kepercayaan pada diri sendiri, keterjangkauan dan kelestarian lingkungan hidup.

Demikian juga dalam Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang menyatakan tujuan penataan ruang yaitu terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan, terselenggaranya pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya, serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas.

Sementara itu Undang-Undang nomor 23 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, menuliskan bahwa pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan adalahupaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup termasuk sumber daya, kedalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

Salah satu pedoman dalam mewujudkan berbagai sarana dan prasarana serta utilitas adalah Peraturan Menteri Dalam Negeri no 1 tahun 1987 tentang penyerahan prasarana lingkungan utilitas umum dan fasilitas sosial kepada pemerintah daerah, dimana diatur mengenai jenis jenis fasosum yang harus diadakan serta bentuk dan tata cara penyerahannya kepada Pemerintah Daerah.

Tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH), hal ini diatur dalam Permendagri N0 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan

Dengan mengacu pada perundang-undangan dan peraturan mengenai lingkungan hidup serta memperhatikan masalah utama dalam pembangunan perumahan dan pemukiman, maka upaya mewujudkan pembangunan kawasan perumahan yang berwawasan lingkungan adalah melaksanakan pembangunan yang terpadu dan terencana yang dapat mengatasi masalah tersebut dan menghasilkan pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemungkinan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya.

Pembangunan perumahan dan pemukiman yang berwawasan lingkungan menyangkut berbagai aspek. Salah satunya adalah keberadaan Ruang Terbuka Hijau sebagai bagian dari sistem ruang terbuka di wilayah perkotaan (Urban Metropolitan Park System).

Beberapa masalah pokok permasalah lingkungan dalam pembangunan perumahan antara lain:

1. Berkurangnya Resapan Air dan Meningkatnya Run Off Air.

Sebagai akibat pembangunan terjadi perubahan terhadap lingkungan awal. Daerah yang tadinya terbuka dan ditumbuhi pepohonan sehinga dapat menyerap air, kerana adanya pembangunan tersebut akan ditutupi oleh bangunan, jalan dan perkerasan lain. Sehingga mengurangi daerah resapan air yang dapat mempengaruhi ketersediaan air tanah. Selain itu, run off akan terjadi dan aliran air akan masuk ke badan sungai. Hal ini menyebabkan volune air sungai akan meningkat yang dapat menyebabkan banjir di wilayah yang lebih rendah.

2.Limbah Cair.

Pembuangan limbah cair khususnya limbah domestic (Individual Septic Tank) pada setiap rumah akan menyebabkan terjadinya pencemaran air tanah. Semakin padat satuan hunian dalam kawasan tersebut, semakin tinggi pula pencemaran yang terjadi. Bahkan akan mempengaruhi air bersih yang berasal dari air tanah.

3.Limbah Padat

Limbah padat atau sampah akan terjadi dan memerlukan penanganan khusus. Sampah dan limbah padat akan merugikan lingkungan baik berupa pencemaran tanah, pencemaran udara (bau), dampak visual, sensori, dan sebagainya.

4.Peningkatan Volume Lalulintas Jalan dan Kemacetan Jalan

Pembangunan perumahan didaerah pinggiran/sekitar kota besar akan mengakibatkan meningkatnya arus komuter (ulang alik) dari perumahan-perumahan tersebut ke kota induk sehingga mengakibatkan kemacetan lalu lintas baik di sekitar perumahan tersebut maupun pada jalan-jalan memasuki kota.

5.Perubahan Iklim Mikro

Dampak lain dari pembangunan perumahan terutama bila kondisi tapak sebelumnya merupakan kawasan yang ditumbuhi pepohonan adalah pengaruhnya terhadap iklim mikro yaitu meningkatnya suhu udara di kawasan tersebut.

6.Perubahan Hak Atas Tanah

Sebagai akibat dari rencana pembangunan perumahan adalah masalah pelaksanaan pembebasan tanah. Tanahtanah yang sebelumnya dimiliki oleh masyarakat setempat berganti kepemilikan melalui proses ganti rugi. Masalah yang muncul adalah belum siapnya masyarakat untuk melepaskan kepemilikan tanah sebagai tempat sumber penghidupannya untuk berganti/alih pekerjaan. Berubahnya pola hidup sosial masyarakat setempat dari masyarakat petani menjadi masyarakat industri/jasa, dan sebagainya.


Kajian Tentang Ruang Terbuka Hijau Pada Kawasan Perumahan

Ruang Terbuka Hijau (RTH) tidak dapat diartikan semata-mata kumpulan atau penanaman berbagai jenis tanaman penghijauan belaka. Ruang terbuka hijau lingkungan perumahan merupakan bagian daripada bangunan perumahan dalam suatu lingkungan itu sendiri. Ini dimaksudkan karena ruang terbuka pada dasarnya merupakan suatu wadah yang dapat menampung kegiatan dan aktifitas tertentu dari warga setempat ataupun secara berkelompok.

Sebagai wadah untuk tempat rekreasi atau kegiatan sosial lainnya, ruang terbuka lingkungan sering disebut dengan Taman Lingkungan. Bentuk daripada ruang terbuka ini sangat tergantung pada pola dan susunan massa bangunan. Selain sebagai fungsi rekreasi, ruang terbuka ini juga mempunyai fungsi :

Ekologis, penyegaran udara,penyerapan air hujan,pengendali banjir, membantu proses recyling,memelihara ekosistem tertentu.

Estetis, membentuk perspektif dan efek keindahan lingkungan lansekap, pelembut arsitektur bangunan.

Standart Ruang terbuka lingkungan tempat perumahan dan rekreasi sangat bervariasi. Di Amerika (USA), menurut Standart For New Urban Development The Denver Background luas Neigborhoodper 1,00 hektar adalah untuk 1000 orang.

Di Australia, menurut Local Goverment Act, luas ruang terbuka di lingkungan perumahan bisa mencapai 3,12 Hektar untuk 1000 orang. Di Inggris, menurut NationalPlayingFieldAssociationmenetapkan 2,4 hektarruang terbuka untuk 1000 orang.

Di Indonesia Dasar Penentuan Standart untuk Perencanaan Lingkungan ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia nomor 378/Kpts/1987 tentang Pengesahan Standart Konstruksi Bangunan Indonesia

Fasilitas Rekreasi dalam ruang terbuka lingkungan perumahan dapat dibagi atas 3 ( tiga )katagori yaitu:

PlayLot

Disediakan untuk anak anakTaman bermain anak (TK). Setiap Play lot diperuntukkan bagi30 – 60 keluarga dengan luas 500 – 800 meter. Lokasi mudah dicapai oleh setiap keluarga dan tidak terhalang untuk pengawasan visual dari jarak jauh. Peralatan yang disediakan dalam Play Lot antara lain ;ayunan yang rendah, papan jingkat jingkit, kotak pasir, ruang untuk berlari, panjatan, goa kecil, perosotan, pergola, bangku, potongan kayu.Untuk memberikan rasa aman dianjurkan agar batas area diberikan pagar dan tempat pengawasan yang strategis.

PlayGround

PenyediaanPlay Ground didasarkan pada pelayanan untuk anak anak umur 6 – 14 tahun. Menurut suatu survey,efektifitas suatu play ground sangat tergantung dari luas area dan jumlah pemakainya. Perlengkapan minimal yang perlu disediakan pada play ground antara lain, alat dan ruang untuk bermain secara kompetisi, seperti struktur keseimbangan, kotak denganukuran yang bervariasi, peralatan yang menimbulkan rasa pragmatis, alat-alat yang mendorong anak untuk beraktivitas dan berkreasi, lapangan olahraga.

PlayField

Penyediaan sarana lapangan bermain (olahraga) ini ditujukan untuk para remaja dan orang dewasa. Penggunaannya bersifat olahraga. Jenis lapangan olahraga yang disediakan sangat tergantung pada kondisi masyarakatnya. Penggunaan ruang untuk aktivitas olahraga dalam park lingkungan ini cenderung untuk fungsi serba guna (MULTI FUNGSI). Artinya suatu ruang yang luas tertentu dapat dipergunakan beberapa permainan.

Kelayakan lingkungan perumahan sebagai tempat tinggal keluarga menunjang nilai kelayakan lingkungan. Nilai nilai inisebenarnya belum menjamin sama sekalinilai kelayakan baik dalam arti lingkungan ataupun rumah itu sendiri.Nilai kelayakan sangat tergantung pada arti sosial disamping arti teknis perencanaan fisik suatu rumah atau lingkungan tempat tinggal. Hal ini dimaksudkan sejauh manasuatu rumah mempunyaihubungan dengan lingkungan yang di ekspresikan secara nyata. Demikian pula sejauh mana penghuni rumah dapat berkomunikasi dengan tetangganya secara wajar. Dengan kata lain bangunan rumah harus mempunyai orientasi terhadap site dan lingkungan.

Orientasi terhadap lingkungan antara lain menyangkut :

1. Matahari, Struktur bangunan seharusnya dapat mengontrol sinat matahari secara optimum. Penyerapan sinar matahari pagi sangat diharapkan terutama kamar tidur. Penggunaan jendela kaca yang lebar pada ruangan tamu dan ruang keluarga agar diperhatikan sebagai cara untuk mengatasi cahaya yang menyebabkan efek silau. Pengaturan kamar kamar hendaknya memperhatikan intensitas cahaya matahari yang dapat masuk atau sebaliknya bagaimana mengurangi jumlah cahaya yang masuk kedalam ruangan bila tidak diperlukan.

2. Angin, mungkin suatu lokasi rumah, angin sangat mengganggu baik untuk aktivitas didalam maupun diluar rumah. Penanggulangan masalah ini dapat dilakukan dengan cara membangun suatu sistempengontrolan angin atau dengan menanami dengan tanaman tertentu yang berfungsi sebagai buffer dan sekaligus untuk memperoleh keteduhan.

3. Suara, faktor suara dewasa ini semakinjelas menimbulkan gangguan. Gangguan suara yang amat terasa adalah suara yang diakibatkan oleh lalu lintas kendaraan bermotor terutama pada bagian perumahan di tepi jalan utama.Untuk penyerapan suara pada dinding bangunan, orientasi dari ruang agar diatur sedemikian rupa hingga terhindar dari sumber suara .

4. Site Plan Persil (Kaveling), flesibelitas orientasi bangunan baik kedalam maupun keluar banyak dipengaruhi oleh jumlahpersil dan luasdan konsep/model site plan yang dibangun berdasarkan peraturan yang berlaku. Berbagai konsep site blok perumahan mempunyai kelemahan dan kelebihan (konsep grid iron, cul-de-sac, cluster, dll). Semakin kecil persil,fleksibelitas semakin kecil pula dan semakin luas persil fleksibelitas semakin besar. Pengaturan ruang didalam persil pada hakekatnya terbagi manjadi area pribadi, area publik danarea pelayanan. Area publik dimaksudkan adalah ruang bangunan dan halaman rumah yang mengarah kejalan dan merupakan bagian dari jalur hijau yang bersifat pribadi.

5. Hubungan Antara Rumah Dan Site, suatu persil, mungkin berbentuk datar, berbukit, berteras atau berbukit batu. Bentuk bangunan atau rumah sebaiknya disesuaikan dengan karakter dari site itu sendiri. Dalam menjalin hubungan antara site dan bangunan, Frank Lloyd Wright, salah seorang arsitek terkemuka memperkenalkan prinsip: OrganicArchitectureyakni prinsip kesesuaian dengan lingkungannya.

6. Hubungan Site Dan Lingkungan, suatu rumah yang dikatakan cukup baik hubungannya dengan site belum berarti cukup baik pula dengan lingkungannya. Oleh karenanya seorang arsitek lansekap harus peka untuk penyesuaian bangunan dengan site dan lingkungannya. Setiap rumah dalam suatu lingkungan hendaknya integrated dengan semua perlengkapan lingkungan seperti; park, tempat bermain, tempat belanja, sekolah, keindahan alam, dan lain lainnya.

Dalam studi kelayakan hal-hal diatas perlu menjadi pertimbangan dalam perencanaan lingkungan kawasan perumahan. Berdasarkan pengamatan, pada lokasi perumahan Puri Asripratama didalam studi kelayakan yang dimaksudkan terdapat usaha menuju kepada uraian diatas. Namun pedoman disain (Landscape Guide Line) belum dimiliki sehingga menyulitkan dalam tahap operasionalisasinya pada tahapan engineering (E).

Dampak ruang terbuka hijau terhadap kawasan di sekitar Perumahan

Tabel dibawah ini merupakan korelasi antara fungsi ruang terbuka hijau dengan dampat perkiraan yang akan terjadi terhadap kawasan sekitarnya.

No

Fungsi RTH

Dampak terhadap lingkungan sekitar kawasan perumahan

1.

Urban metropolitan park system

Rencana peruntukkan ruang terbuka hijau suatu kawasan harus merupakan bagian dari sistem ruang terbuka hijau perkotaan. Dengan demikian daerah sekitar kawasan perumahan akan menerima dampak dari sistem tersebut. Penghijauan tepi jalan menuju gerbang masuk perumahan akan tertata baik sebagi konsekuensi pengembang untuk memperlihatkan citra kawasan nya.

2.

Keindahan Lingkungan

Lingkungan yang asri, indah dan nyaman akan membawa suasana kawasan menjadi menarik. Kondisi yang demikian akan mempengaruhi pola penataan lingkungan di sekitar kawasan serta membawa kesadaran masyarakat akan keindahan halaman rumahnya.

3.

Mengurangi dampak banjir

Pada daerah yang rendah dan cenderung terjadi genangan airyang menimbulkan banjir, beberapa jenis tanaman mempunyai kemampuan untuk meng evapotransiprasi tinggi, yaitu tanaman berdaun banyak sehingga luas permukaan daunnya tinggi dan memiliki banyak stomata (mulut daun). Beberapa jenis tanaman yang memenuhi kretaria tersebut antara lain: Nangka (Artocarpus integra), Albizia (Paraserianthes falcataria), Mahoni (Sweitenia sp), Jati (Tectona Grandis), KiHujan (Samanea Saman). Dengan penanaman jenis tanaman tersebut, maka genangan banjir didalam kawasan ataupun disekitar kawasan dapat dikurangi.

4.

Menciptakan Iklim mikro

Salah satu masalah yang cukup merisaukan masyarakat adalah berkurangnya kenyamanan akibat meningkatnya suhu udara. Untuk mengatasi itu, RTH dibangun (dengan pola penghijauan tanaman pohon) agar pada siang hari tidak terlalu panas akibat banyaknya perkerasan seperti jalan, jembatan, bangunan dlsbnya. Sebaliknya pada malam hari dapatlebih hangat karena tajuk pohon dapat menahan radiasi balik dari bumi (Grey and Deneke dalam Robinette,1983). Jumlah pantulan radiasi matahari sangat dipengaruhi oleh panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi jatuh sinar matahari, keadaaan cuaca dan posisi lintang (Robinette). Jadi, pada kawasan perumahan penghijauan RTHakan menciptakan iklim mikro.

5.

Kelestarian tata air/ Peresapan air

Salah satu konsepsi dasar RTH adalah kawasan dengan seminimal mungkin adanya perkerasan. Sebagian besar di dominasi oleh pepohonan. Dengan demikian jika terjadi hujan lebat, air hujan dapat meresap kedalam tanah sebagai air infiltrasi melalui permukaan tanah yang terbuka. Dengan demikian fungsi resapan sangat berarti. Pada kawasan sekitarnya dengan banyaknya air terserap kedalam tanah, maka beban saluran air pembuangan yang melalui kawasan sekitar perumahan dapat semakin berkurang.

6.

Mencegah Polusi udara

Adanya kawasan perumahan menyebabkan terjadinya lalulintas kendaran yang tinggi menuju kawasan tersebut. Banyaknya arus kendaraan menyebabkan terciptanya sisa buangan asap kendaraan yang menyebabkan polusi. Demikian pula masalah kebisingan. Dengan pola penanaman terpadu didalam maupun diluar kawasan akan mengurangi masalah tersebut.

7.

Udara segar

RTH didalam kawasan akan menghasilkan udara segar bagi masyarakat. Pepohonan akan mengeluarkan O2 dan menyerap CO2. Sehinga rasa nyaman akan tercapai. Demikian pula dampak diluar kawasan akan menerima rasa nyaman.

8.

Sumber Plasma Nutfah

Ruang terbuka hijau dapat ditanami dengan berbagai jenis tanaman langka dan menjadikan tempat koleksi keaneka ragaman hayati yang tersebar di seluruh Indonesia. Sehingga dapat juga berguna sebagai kawasan konservasi, karena pada areal tersebut dapat dilestarikan dengan flora dan fauna exsitu. Dengan demikian bilamana di sekitar kawasan perumahan terdapat jenis tanaman yang menjadi tanaman asli dan bermanfaat, jenis tersebut dapat dibudidayakan lebih lanjut.

9.

Habitat Satwa Fauna

Ruang terbuka hijau dapat dikembangkan sebagai habitat burung. Beberapa jenis burung sangat membutuhkan pohon sebagai tempat mencari makanan maupun tempat bersarang dan bertelur. Beberapa jenis pohon yang disukai oleh burung karena buah, nektar, bunga, ijuk, batangnya yang menarik diantaranya: kiara, caringin, loa (Ficus,sp), dadap (Erythrina variegata), aren (Arenga pinnata), bambu (Bambusa sp), dan lain lain.

Dengan demikian, lingkungan di sekitar perumahan memberikan lingkungan yang lebih alami.

10.

Penahan Angin

Angin kencang dapat dikurangi 75-80% oleh suatu penahan angin berupa tanaman pada ruang terbuka hijau (Panilov dalam Robinette,1983). Jadi, RTH didalam kawasan perumahan membawa dapat positip terhadap lingkungan disekitarnya.

Nilai Tambah Dan Manfaat Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perumahan Ditinjau Dari Sudut Ekonomi Lingkungan

Penilaian manfaat RTH dapat dilakukan dengan menggunakan pasar pengganti sumberdaya milik umum yaitu barang dan jasa lingkungan. Jasa lingkungan tidak ada harganya dan tidak masuk dalam mekanisme pasar maka diperlukan subsitusi atau pelengkap dalam menilai manfaat sumberdaya milik umum.

Beberapa teknik yang dapat dipakai dalam menghitung biaya lingkungan dengan cara memakai nilai pasar secara tidak langsung. Teknik-teknik yang dimaksudkan adalah :

1.Barang-barang dan jasa-jasa yang dipasarkan sebagai pengganti lingkungan.

2. Nilai milik

3.Nilai lahan yang lain

4.Perbedaan upah

5.Biaya perjalanan

Setiap teknik memiliki kebaikan dan kebutuhan tersendiri, juga kebutuhan akan data dan sumber daya.Dalam perhitungan untuk permasalahan keberadaan ruang terbuka hijau suatu kawasan, teknik yang diusulkan adalah mempergunakan butir 2.

Nilai milik

Pendekatan nilai milik termasuk dalam pendekatan nilai lahan karena banyak masalah-masalah yang lebih luas seperti perlindungan tanah datar terhadap banjir. Masalah yang lebih luas memerlukan pendekatan yang lebih luas pula yaitu dapat memperkirakan manfaat program pemerintah dengan menggunakan nilai lahan.

Pendekatan dengan memakai nilai lahan atau milik untuk menentukan kesediaan seseorang untuk membayar suatu barang lingkungan tertentu. Dengan memperoleh kurve permintaan, dapat dihitung manfaat atau kerugian dari perubahan atau penyediaan barang lingkungan.

Teknik nilai milik, nilai lahan, harga hedonik (kenikmatan) merupakan istilah dalam pendekatan yang mengalisis hubungan antara karakteriktik kualitas lingkungan tertentu dengan harga barang pribadi.

Menurut Rosen (1974), harga kenikmatan didifinisikan sebagai harga tersirat karakterik suatu milik (misalnya luas, lokasi, kualitas, dan karakteristik) yang dipertanyakan pada para pelaku ekonomi dari harga berbagai milik yang diamati dan jumlah tertentu karakteristik yang berhubungan dengan hal tersebut.

Dasar teoritik pendekatan nilai milik adalah memungkinkan penganalisis memberikan nilai pada manfaat perbaikan dalam kualitas lingkungan atau juga faktor keindahan. Pemakaian teknik ini berdasarkan pada anggapan bahwa kesediaan seseorang untuk membayar cukup tepat untuk membatasi dan mengukur perbaikan kualitas lingkungan. Masalah dan Keterbatasan Teknik didalam menerapkan teknik nilai milik pada masalah kualitas lingkungan dan didalam menaksirkan hasil yang diperoleh perlu berhati-hati.

Maler (1977) memberikan gambaran pendekatan sebagai berikut:

1. Bahwa terdapat sejumlah besar individu yang berlainan yang berbeda pada komunitas yang homogen

2. Bahwa harga tanah berdasar harapan tentang kualitas lingkungan masa datang, sedangkan metodenya tergantungpada

    korelasi dengan kualitas lingkungan sekarang.

3. Bahwa orang tanggap terhadap perbedaan dalam kualitas lingkungan.

4. Bahwa orang bersedia membayar perbaikan lingkungan sekitar mereka bertempat tinggal.

5. Bahwa ada informasi sempurna tentang harga kawasan pemukiman.

6. Bahwa rumah tangga secara terus menerus menilai putusan mereka sehubungan dengan tempat tinggal mereka.

Berdasarkan hal ini, Freeman (1979) mengemukakan bahwa teknik kenikmatan, walaupun terlalu sederhana dan penuh abstraksi keadaan senyatanya yang kompleks, masih mengandung dasar teoritis logik dan panggah. Model harga kenikmatan memiliki kekuatan menerangkan dan memberi jalan yang relatif baik menghubungkan perubahan dan lain-lain kualitas lingkungan dengan harga-harga rumah.

Semakin banyak menikmati keindahan maka semakin tinggi daya apresiasinya dan semakin tinggi kesadaran akan nilai manfaat yang harus dikeluarkan.

Beberapa variabel penilaian kawasan perumahan yang menentukan harga hunian (nilai milik)dapat diterangkan dibawah ini.

No

Faktor

Nilai Bandingan

1.

Letak lokasi kawasan perumahan

dekat pusat kota

2.

  Kondisi lingkungan  (Ruang Terbuka Hijau)

  alamiah, iklim, suasana, indah, nyaman, banyak pepohonan, ada             sungai, pebukitan, taman lingkungan

3.

  Pencapaian terhadap jalan lokal,  regional

dekat dengan jalan utama

4.

Kondisi tapak

tanah datar, berkountour

5.

Banyak alternatif jalan menuju pusat kota

jalan tol, jalan regional

6.

Kemungkinan perkembangan wilayah sekitar

banyaknya kawasan perumahan

7.

Kemudahan transportasi umum ke lokasi

tersediannya angkutan kota

8.

Tidak banjir atau berada diatas batas ambang air sungai.

topografi tapak diatas permukaan garis banjir, Tapak berada diatas jalan utama.

9.

Bentuk Blok Plan Bangunan

Cul De-Sac, Cluster,

10.

Arsitektur Bangunan

Style modern atau tradisional

11.

Kemungkinan pengembangan bangunan

Mudah , efisien

12.

Kondisi bangunan, spesifikasi

Kualitas bahan bangunan, standart ruang

13.

Kepadatan Bangunan

Sesuai ketentuan dan peraturan

14.

Utilitas

air bersih, saluran telepon, listrik, pembuangan sampah, penerangan jalan

15.

Fasilitas sarana dan prasarana lingkungan

Dekat atau tersedianya fasilitas sekolah, pasar tradisional, fasilitas olahraga, sarana ibadah, sarana kesehatan, sarana bermain anak-anak, kantor warga, apotik, pemakaman, pedestrian, jalur sepeda.

16.

Kondisi jalan

Lebar jalan diatas ketentuan, kualitas Jalan.

17.

Kondisi keamanan

Pemadam kebakaran, rambu-rambu jalan

Semakin lengkap sarana dan prasarana lingkungan kawasan, semakin tinggi nilai harga jual hunian. Hal ini dapat dilihat dari skore yang diperoleh.

Peran Serta Masyarakat Terhadap Keberadaan Ruang Terbuka HijauDi Lingkungan Perumahan.

Dasar dari peran serta masyarakat terhadap penataan ruang adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 68 tahun 2010 tentang Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang.

Dampak dari peran serta masyarakat perumahan terhadap penataan ruang terbuka hijau dapat ditinjau dari sisi internal dan Sisi eksternal baik secara mikro (penataan pekarangan rumah tinggal berupa penghijauan pertamanan) maupun secara makro (usaha penghijauan lingkungan kawasan), berpengaruh terhadap aspek sosial ekonomidan aspek sosial budaya.

Sisi Internal:

1.   Pemberdayaan masyarakat perumahan tentang pentingnya ruang terbuka hijau dalam menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik, membawa dampak sosial budaya yaitu mengembangkan kesadaran masyarakat untuk mencintai tanaman serta melestarikan lingkungan.

2.   Kegiatan dalam pembangunan ruang terbuka hijau secara swadaya memberikan nilai kebersamaan sebagai suatu kegiatan gotong royong antar warga yang akan mempererat rasa kesatuan dan persatuan.

3. Dengan demikian, rasa memiliki lingkungan kawasan akan menjadi dasar dalam pengembangan lingkungan menuju ketertiban, keindahan, keamanan, dan kenyamanan lingkungan.

Sisi Eksternal:

Dampak yang ditimbulkan dari kegiatan peruntukan pembangunan ruang terbuka hijau akan

meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar kawasan dari hasil tanaman penghijauan tanaman

hias dan tanaman produktif, seperti:

  1. Munculnya penjual tanaman penghijauan.
  2. Menciptakan kesempatan kerja bagi petani tanaman dan buah-buahan.
  3. Memberikan kesempatan tenaga kerja sebagai pengumpul bibit tanaman.
  4. Munculnya petani tanaman produktif yang dapat memetik hasil setelah pohon yang ditanam berbuah.

Kesimpulan

Dari hasil pembahasan pada bab-bab terdahulu dapat diambil kesimpulan antara lain :

Dengan mengacu pada perundang-undangan dan peraturan mengenai lingkungan hidup serta memperhatikan masalah utama dalam pembangunan perumahan dan pemukiman, maka upaya mewujudkan pembangunan kawasan perumahan yang berwawasan lingkungan adalah melaksanakan pembangunan yang terpadu dan terencana yang dapat mengatasi masalah tersebut dan menghasilkan pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan generasi mendatang.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) tidak dapat diartikan semata-mata kumpulan atau penanaman berbagai jenis tanaman penghijauan belaka. Ruang terbuka hijau lingkungan perumahan merupakan bagian daripada bangunan perumahan dalam suatu lingkungan itu sendiri. Ini dimaksudkan karena ruang terbuka pada dasarnya merupakan suatu wadah yang dapat menampung kegiatan dan aktifitas tertentu dari warga setempat ataupun secara berkelompok.

Semakin lengkap sarana dan prasarana lingkungan kawasan perumahan, semakin tinggi nilai harga jual hunian.

Dampak dari peran serta masyarakat perumahan terhadap penataan ruang terbuka hijau dapat ditinjau dari sisi internal dan sisi eksternal baik secara mikro (penataan pekarangan rumah tinggal berupa penghijauan pertamanan) maupun secara makro (usaha penghijauan lingkungan kawasan), berpengaruh terhadap aspek sosial ekonomidan aspek sosial budaya.

DaftarPustaka

1.Eckbo. G, The Urban Landscape Design. Mc. Graw Hill Company. 1964.

2.F.L. Harison, Advanced Projects Management A Structure Approarch, John Willey & Sons, Ny, 1992.

3.Gellion.B. The Urban Pattern.City Planning And Design. 1975

4.Hester R.T. Neihgborhood Space.Husting Sons And Rose. 1975

5.Laurie.M , An Introduction To Landscape Architecture. American Publisher. 1975.

6.Newton N,T, Design On The Land.The Development Of Landscape Architecture. 1971.

7.Russel D, Archibald, Managing High Technology Programme And Projects, John Wiley & Sons, Ny 1976.

8.Richard Untermann & Robert Small, Perencanaan Tapak Untuk Perumahan Tapak Berskala Besar (Terjemahan Dari Site Planning For Cluster Housing), Departemen Of Landscape Architecture University Of Washongton, 1994.

9.Stephen P. Robbins, Organization Theory Structure, Design And Applications, Prentice Hall International Inc, New Jersey, 1990.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: